Minggu, 26 April 2009

Dewin Ajuen, Harumkan Nama Sekolah dan Daerah

Keterisoliran dan Kemiskinan bukan Hambatan untuk Berprestasi
Dewin Ajuen, Harumkan Nama Sekolah dan Daerah
Keterisoliran dan kemiskinan bukan halangan menggapai prestasi. Dewin Ajuen, siswi kelas V SDN 21 Subarang Tigo Jorong Kecamatan Ampekkoto, Kabupaten Agam telah membuktikan jika dirinya tidak sekadar gadis kampung yang terjebak dalam rintangan dan hambatan. Gadis cilik ini berhasil keluar, bahkan menoreh prestasi yang membanggakan sekolah dan daerahnya.


“Alun un tau lai pak, tutur dara imut
ini saat ditanya apa cita-citanya kelak. Meski masih malu-malu, namun sorot mata-nya dalam dan tajam yang menyimpan semangat membara menggapai pendi-dikan lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.
Dewin Ajuen merupakan juara pertama pada lomba Bidang Studi Matematika tingkat SD se Kecamatan Ampekkoto yang diadakan baru-baru ini di ibukecamatan, Kototuo. Dewin Ajuen berhasil menyisihkan puluhan peserta lain utusan dari seluruh SD se Ampekkoto.
Melihat kondisi kehidupan Dewin, tiada menyangka anak kampung dari sekolah terpencil ini mampu menjadi pemuncak. Dewin berasal dari keluarga tergolong kurang mampu. Bapaknya, Aidil Jufri adalah seorang petani yang terkadang untuk memenuhi kebutuhan rumahtangga, juga berprofesi sebagai tukang batu di kampungnya.
Sedangkan SDN 21 Sutijo adalah sekolah di pedalaman. Jauh dari pusat kota. Walau Sutijo masuk dalam kenagarian Koto Gadang, Ampekkoto, namun jarak dari pusat pemerintahan ada sekitar 9 kilometer. Dibutuhkan jalan memutar melalui Nagari Sianok dan Nagari Koto Panjang, baru bisa sampai di Jorong Sutijo. Semula sekolah ini tidak pernah diperhitungkan dalam setiap lomba, baik tingkat gugus apalagi tingkat kecamatan.
Hal mengharukan dari pengakuan teman-teman Dewin, yakni sesaat setelah memenangkan lomba. Berita gembira ini disampaikan kepada bapak dan ibunya. Dengan segenap kemampuan yang ada, kedua orang tua ini menraktir Dewin makan bakso ke Bukittinggi. Walau ekonomi serba terbatas, tidak menghalangi niat kedua orang tua ini untuk menghargai prestasi anaknya.
“Walau sekolah kami terletak di pedalaman dengan sarana transportasi menuju sekolah yang sangat terbatas, namun tidak menghalangi siswa untuk berprestasi. Beberapa tahun terakhir SDN 21 Sutijo mampu lulus 100 persen, dan untuk tahun ini kita juga berharap demikian.
Namun kita tidak boleh berpuas diri. Walau hasil try out pada tingkat gugus, kecamatan dan propinsi memperlihatkan keberhasilan yang signifikan, namun itu belum menjamin karena ujian yang sebenarnya ada pada UAS BN (Ujian Nasional) yang baru akan dilaksanakan beberapa bulan lagi,” ungkap Kepala SDN 21 Sutijo, Win Esfandri S.Pd, yang didampingi majelis guru pada koran ini di kantornya baru-baru ini.
Keberhasilan salah seorang siswa sekolah ini dalam setiap perlombaan, lanjut Win Esfandri, tidak terlepas dari peran seluruh majelis guru. Para guru diharapkan terus menggenjot kemampuannya dalam melaksanakan proses belajar mengajar dan menentukan yang terbaik untuk muridnya. Pihak sekolah memberi kebebasan pada para guru untuk berapresiasi di kelas masing-masing.
“Keterisoliran dan jauh dari pusat keramaian, bukan halangan bagi kami menghasilkan siswa berprestasi. Saat ini Dewin sedang dipersiapkan untuk menuju lomba Bidang Studi Matematika tingkat Kabupaten Agam,” ungkap Win.
Win Esfandri mengeluhkan lemahnya kemauan orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke tingkat lebih tinggi. Padahal, di sekitar daerah ini, fasilitas pendidikan ke tingkat atas sudah tersedia.
Seperti SLTP yang ada di Lambah dengan jarak 7 Km, MTSS di Sungaijariang dengan jarak 2 Km, juga di kawasan sekitar daerah itu yang sudah berdiri SMA 2 Ampekkoto di Sungaijariang. Ke depan diharapkan peran pemerintah untuk lebih merangsang masyarakat daerah ini untuk mening¬kat¬kan pendidikan.ridwansyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar