Kamis, 26 Maret 2009

Politik Harus Masuk Kampus

Ini pernyataan mengejutkan; sudah seharusnya politik masuk ke kampus. Jika tidak, dikhawatirkan, partisipasi aktif mahasiswa terhadap kehidupan politik tetap minim. ”Tidak ada alasan untuk mengatakan tidak,” ungkap Insannul Kamil, aktivis pemuda Sumbar, yang juga PD III Fakultas Teknik Universitas Andalas Padang. Tawaran Insannul Kamil yang akrab disapa Nanuk, bukan tanpa alasan. Selama ini, katanya, kehidupan politik tidak dibenarkan masuk ke kampus, sementara pendidikan politik terbaik seharusnya mesti ada di tingkat mahasiswa.

“Di satu sisi kita berharap, calon intelektual harus mengetahui dan memahami dunia politik, sementara pendidikan politik justru sangat minim,” ungkapnya sembari menyebutkan, kalau pun di luar kampus diberi kebebasan, namun hari-hari mahasiswa lebih banyak di kampus. Jadi tidak sebanding harapan dengan perlakuan kepada mahasiswa. Nanuk pun memberikan ilustrasi. Pengamatannya di lingkungan kampus, sangat banyak mahasiswa yang apatis terhadap pelaksanaan Pemilu kali ini. Hal ini dipengaruhi oleh ketidaktahuan mahasiswa dengan proses Pemilu secara detail, sebagai buntut dari terkungkungnya mahasiswa dari persoalan politik, sebab sangat minim mendapatkan pendidikan politik di kampus.

“Seharusnya kampus bisa dijadikan sebagai labor untuk pendidikan politik,” jelasnya sembari memberikan gambaran bahwa di negara yang terbuka soal demokrasi, Amerika Serikat, tak ada persoalan politik di kampus. Buktinya Obama seterunya pada pemilihan presiden, justru diadu debat di kampus. Pada banyak hal, katanya, mungkin karena ketidaktahuan mahasiswa, mereka cenderung mengambil arah berseberangan dengan rencana yang ditawarkan pemerintah, sehingga memungkinkan hadirnya perdebatan yang berawal dari sudut pandang berbeda.

Masih Jual Orang

Buntut nyata dari realita tersebut, Nanuk menuturkan, sampai saat ini kehidupan politik di Indonesia masih menjual orang, belum menjual program. Seharusnya terbalik. Yang penting adalah program, bukan orangnya. Jika diibaratkan membeli barang dagangan, orang tentu cenderung membeli barangnya, bukan orang yang membuatnya. Ketika kita membeli sayur, tentu kita memilih sayur terbaik, kemudian dibeli. Tidak pernah tahu siapa yang menanam dan memelihara sayuran tersebut. Kalau sayurannya baik dan bagus, tentu ditangani serius oleh petaninya.

Hanya saja, sampai saat ini, hal itu belum akan mungkin terjadi di Indonesia. Makanya, Nanuk menawarkan tips sederhana untuk pemilihan 9 April mendatang. Caranya, perhatikan satu persatu calon tiap tingkatan sejak sekarang, mumpung masih ada waktu. Lalu pilihlah calon yang selama ini telah berbuat untuk lingkungannya, atau minimal di lingkungan mana yang diketahui. Artinya, jika sebelum ini Ia bukan siapa-siapa, namun telah berbuat untuk lingkungan terkecil sekali pun, maka mungkin Ia lebih baik jika dibandingkan dengan mereka yang sudah duduk, tetapi tidak pernah ada kiprah untuk lingkungannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar